Pakan Alami
Pakan alami ialah makanan hidup bagi larva dan benih ikan mencakup fitoplankton, zooplankton dan benthos serta berperan sebagai sumber protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Disamping mengandung gizi yang lengkap pakan alami mudah dicerna sebab mengandung enzim yang dapat membantu pencernaan di usus larva atau benih ikan yang belum berkembang alat pencernaannya. Pakan alami berukuran relatif kecil (150 mikron - 1 mm) sesuai dengan bukaan mulut larva atau benih dan bergerak tidak begitu aktif sehingga mempermudah larva atau benih untuk memangsanya. Karena sifatnya yang hidup, pakan alami tidak mencemari media pemeliharaan larva atau benih ikan. Pakan alami jenis fitoplankton diketahui sebagai makanan awal bagi larva ikan laut yang relatif bukaan mulut larvanya kecil. Sedangkan sebagian larva ikan air tawar banyak memanfaatkan zooplankton karena bukaan mulut larvanya relatif besar. Namun beberapa ikan air tawar termasuk ikan hias ada yang bukaan mulut larvanya relatif kecil sehingga di dalam usaha pembenihan memerlukan zooplankton yang ukurannya kecil. Pakan alami sebagian mudah didapat dari alam dan ada yang mudah dibudidayakan. Media kultur untuk pembudidayaan pakan alami dapat berupa media alga atau media yang banyak mengandung bakteri untuk itu fasilitas pengembangbiakan khususnya alga perlu dipersiapkan. Sedangkan media bakteri mudah didapat dengan menggunakan kotoran hewan. Penyediaan pakan alami secara berkesinambungan dan peruntukannya yang tepat akan meningkatkan pertumbuhan dan sintasan larva dan benih ikan.
Pakan alami dengan berbagai kelebihannya sangat cocok untuk benih ikan. Selama ini, pakan alami diperoleh dengan cara menangkap di alam atau dengan membudidayakannya. Ketersediaan pakan alami merupakan faktor penting dalam budidaya ikan terutama pada usaha pembenihan dan usaha budidaya ikan.
Pakan alami merupakan pakan hidup bagi larva ikan yang mencakup fitoplankton, zooplankton, dan benthos. Pakan alami untuk larva atau benih ikan mempunyai beberapa kelebihan karena ukurannnya relatif kecil dan sesuai dengan bukaan mulut larva atau benih ikan, nilai nutrisinya tinggi, mudah dibudidayakan, gerakannya dapat merangsang ikan untuk memangsanya, dapat berkembang biak dengan cepat sehingga ketersediaannya dapat terjamin, dan biaya pembudidayaannya relatif murah.
Larva ikan mencari dan menangkap pakannya dengan mengandalkan kemampuan matanya. Apabila menemukan mangsanya, larva ikan akan bereaksi dengan mendekatinya kemudian menangkap mangsanya, sifat pakan alami yang bergerak, tetapi tidak terlalu aktif dapat merangsang dan mempermudah larva ikan untuk memangsanya.
Selain beberapa kelebihan tersebut, pakan alami juga tidak mencemari median pemeliharaan sehingga diharapkan dapat menekan angka mortalitas benih akibat kondisi air yang kurang baik. Jenis pakan alami yang dapat dimakan ikan tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Pakan ikan yang pertama kali datang dari luar dan mengawali hidupnya adalah plankton yang bersel tunggal dan berukuran kecil. Semakin besar ukuran ikan maka jenis pakannya juga berubah, misalnya udang renik, cacing, atau serangga. Jenis pakan alami yang dapat dikembangbiakkan antara lain klorela, tetraselmis, infusoria, Moina sp, rotifera, Daphinia sp, jentik nyamuk, cacing merah, dan artemia.
Sifat umum pakan alami perlu diketahui sebelum terlanjur melakukan pembudidayaan. Hal-hal yang perlu diketahui meliputi morfologi, habitat, daur hidup, cara perkembang biakannya, kebiasaan makan, serta jenis pakannya. Pengetahuan morfologi setiap jenis pakan alami sangat berguna untuk menyesuaikan ukuran dan bentuk pakan alami yang akan dibudidayakan dengan jenis, ukuran, dan stadia ikan yang akan diberi produk dari pakan alami tersebut.
A. Chlorella
1. Sistematika dan Morfologi
Chlorella merupakan alga hikau yang di klasifikasikan sebagai berikut
Phylum : Chlorophyta
Kelas : chlorophhyceae
Ordo : Chlorococcales
Familia : Chlorellaceae
Genus : Chlorella ( Bougis, 1979 )
Bentuk sel chlorella bulat atau bulat telur, merupakan alga yang bersel tunggal tetapi kadang – kadang bergerombol. Diameter sel berkisar antara 2- 8 mikron, berwarna hijau karena klorofil merupakan pigmen yang dominan, dinding selnya keras terdiri atas selulosa dan pektin. Sel ini mempunyai pitoplasma berbentuk cawan. Chlorella dapat bergerak tetapi sangat lambat sehingga pada pengamatan seakan – akan tidak bergerak.
2. ekologi chlorella
Chlorella dapat hidup di air yang menggenang dengan sumber makanan yang cukup, chlorella ini adalah sebagai pakan alami ikan yang sangat baik bagi kelangsungan pertumbuhan ikan.
3. reproduksi
Chlorella ini dapat berkembangbiak dengan membelah sel, Selnya bereproduksi dengan membentuk dua sampai delapan sel anak di dalam sel induk yang akan dilepaskan dengan melihat kondisi lingkungan salinitas 0-35 ppt dan yang optimal pada 10-20 ppt, kisaran suhu optimal 25-30°C dan maksimum pada 40 ° C.
4. Budidaya chlorella
Chlorella dapat dibudidayakan dengan menyiapkan wadah budidaya yang terbuat dari bak plastik, bak semen, dan tempat – tempat yang memungkinkan chlorella dapat tumbuh. Persiapan – persiapan yang dilakukan adalah :
- Menyiapkan wadah
- Menyeterilkan wadah dari kotoran.
- Menggunakan pupuk urea
- Terakhir, bak diisi dengan air
B. Tetraselmis
1. Sistematika dan morfologi
Tetraselmis berupa orgaisme hijau motil, lebar 9-10 mm, panjang 12-14 mm, dengan empat flagel yang tumbuh dari sebuah alur pada bagian belakang anterior sel. Sel-selnya bergerak dengan cepat di air dan tampak bergoncang pada saat berenang. Ada empat cuping yang memanjang dan memiliki sebuah titik mata yang kemerah-merahan.
2. Ekologi
Tetraselmis hidup di air dan tampak bergoncang pada saat berenang. Tetraselmis juga sebagai pakan alami yang di butuhkan oleh ikan dan tetraselmis ini dapat hidup pada salinitas standar.
3. Reproduksi
Tetraselmis ini dapat berkembangbiak dengan membelah sel, Selnya bereproduksi dengan membentuk dua sampai delapan sel anak di dalam sel induk yang akan dilepaskan dengan melihat kondisi lingkungan salinitas 0-35 ppt dan yang optimal pada 10-20 ppt, kisaran suhu optimal 25-30°C dan maksimum pada 40 ° C.
4. Budidaya tetraselmis
Tetraselmis dapat di budidayakan dengn cara sabagai berikut :
a. Dalam wadah 1liter
- Dapat menggunakan botol erlenmeyer. Botol, slang plastik, dan batu aerasi dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan larutan klorin 150 ml/ton.
- Wadah diisi air medium dengan kadar garam 28 permil yang telah disaring dengan saringan 15 mikron. Kemudian disterilkan dengan cara direbus, diklorin 60 ppm dan dinetralkan dengan 20 ppm Na2S2O3, atau disinari lampu ultraviolet.
- Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
a. Natrium nitrat ? NaNO3 = 84 mg/l
b.Natrium dihidrofosfat-NaH2PO4 = 10 mg/l
c. atau Natrium fosfat-Na3PO4 = 27,6 mg/l
d.atau Kalsium fosfat-Ca3(PO4)2 = 11,2 mg/l
e. Besi klorida ? FeCl3 = 2,9 mg/l
f. EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) =
g. 10 mg/l
h. Tiamin-HCl (vitamin B1) = 9,2 mg/l
i. Biotin = 1 mikrogram/l
j. Vitamin B12 = 1mikrogram/l
k.Tembaga sulfat kristal CuSO4.5H2O = 0,0196
l. mg/l
m. Seng sulfat kristal ZnSO4.7H2O = 0,044 mg/l
n. Natrium molibdat-NaMoO4.7H2O = 0,02 mg/l
o.Mangan klorida kristal-MnCl2.4H2O = 0,0126
p.mg/l
q.Kobalt korida kristal-CoCl2.6H2O = 3,6 mg/l
b. Dalam wadah 1 galon (3 liter)
· Dapat menggunakan botol ?carboys? atau stoples.
· Persiapan sama dengan dalam wadah 1 liter.
· Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
1. Urea-46 = 100 mg/l
2. Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 10 mg/l
3. Agrimin = 1 mg/l
4. Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/l
5. EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 2 mg/l
6. Vitamin B1 = 0,005 mg/l
7. Vitamin B12 = 0,005 mg/l
c. Dalam wadah 200 liter dan 1 ton
c.1. Wadah 200 liter dapat menggunakan akuarium, dan untuk 1 ton menggunakan bak dari kayu, bak semen, atau bak fiberglass.Persiapan lain sama.
c.2 Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagaiberikut :
1. Urea-46 = 100 mg/liter
2. Pupuk 16-20-0 = 5 mg/liter
3. Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 5 mg/liter
i. atau Kalium dihidrofosfat-K2H2PO4 = 5 mg/liter
4. Agrimin = 1 mg/liter
5. Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/liter
d.3 Untuk wadah 1 ton dapat hanya menggunakan urea60-100 mg/liter dan TSP 20-50 mg/liter.
Setelah Tetraselmis tumbuh dan siap di panen maka pemanenan tetraselmis dengan cara pemanenan langsung diumpankan dan diambil dari budidaya masal1 ton.
C. Budidaya Moina
1. Sistematika dan Morfologi
Moina banyak hidup di perairan- perairan yang tidak begitu dalam, dan dapat hidup di genangan air ataupun di selokan – selokan. Moina banyak jenis dan bentuknya, moina mempunyai kaki dan hidup dapat bergerak berenang dan dapat menjadi makanan ikan alami yang mempunyai gizi yang bagus bagi kelangsungan hidup benih ikan.
2. Ekologi
Moina dapat hidup di genangan air dan dapat hidup di selokan yang suhu optimal 22-31 ° C, dan pH optimal 6,6-7,4. moina sangat kaya akan gizi sehingga para peneliti mampu menjadikan moina dapat dikultur.
3. Reproduksi
Moina dapat bereproduksi dengan bertelur, jumlah telur yang di produksi moina sangat banyak sehingga dapat mengkultur dalam waktu singkat menghasilkan bayak anakan moina. Moina mengalami kawin antara moina jantan dan betina sehingga mampu berkembang biak dengan menghasilkan eturunan, tidak seperti chlorella yang berkembangbiaknya dengan membelah diri.
4. Budidaya moina
Moina dapat di budidayakan dengan kultur dengan tahapansebagai berikut :
a. persiapan wadah
- Wadah yang digunakan adalah berbagai macam bak dengan ukuran 1 ton (1 m 3 ). Bak diletakkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung.
- Wadah diisi air tawar sampai 60 cm dan diudarai dengan batu 1-2 aerasi per 2,5 m
- Pemupukan menggunakan kotoran ayam kering yang dilarutkan dalam air samapi konsentrasinya 10% dan bungkil kelapa yang ditumbuk halus dan diayak dengan saringan 500 mikron.
- Pemupukan pertama menggunakan kotoran ayam 1000 ml/ton dan bubuk bungkil kelapa 200 gram/ton yang dicampur dan dimasukkan dalam kantong yang diperas di atas bak pemeliharaan, sehingga air perasan langsung jatuh ke bak.
- Pemupukan kedua dilakukan 4 hari kemudian, dan pemupukan ketiga dilakukan bila perlu.
b. pemasukan bibit
· Pemasukan biibt dilakukan 18-24 jam sesudah pemupukan awal dengan padat penebaran 30 ekor/l.
· Perkembangannya akan mencapai puncak dalam waktu 7-10 hari dengan kepadatan 3000-5000 ekor/l.
· Makanan moina terdiri dari tumbuhan renik dan detritus.
c. pemanenan
Pemanenan dilakukan dengan menghentikan aerasi, penyedotan dan penyaringan medium dengan saringan ukuran 200-250 mikron dan 800-1500 mikron untuk memisahkan dari jentik-jentik nyamuk.
Kultur ketiga plankton ini sangat berguna dan dapat dikembangkan sebagai pengefesien plankton untuk pakan alami ikan, dan plankton ini dapat juga menjadikan sebagai peluang usaha untuk menghasilkan nafkah.