Kamis, 05 Februari 2009

kultur pakan alami

KULTUR PAKAN ALAMI

Pakan alami dengan berbagai kelebihannya sangat cocok untuk benih ikan. Selama ini, pakan alami diperoleh dengan cara menangkap di alam atau dengan membudidayakannya. Ketersediaan pakan alami merupakan faktor penting dalam budidaya ikan terutama pada usaha pembenihan dan usaha budidaya ikan.

Pakan alami merupakan pakan hidup bagi larva ikan yang mencakup fitoplankton, zooplankton, dan benthos. Pakan alami untuk larva atau benih ikan mempunyai beberapa kelebihan karena ukurannnya relatif kecil dan sesuai dengan bukaan mulut larva atau benih ikan, nilai nutrisinya tinggi, mudah dibudidayakan, gerakannya dapat merangsang ikan untuk memangsanya, dapat berkembang biak dengan cepat sehingga ketersediaannya dapat terjamin, dan biaya pembudidayaannya relatif murah.

Larva ikan mencari dan menangkap pakannya dengan mengandalkan kemampuan matanya. Apabila menemukan mangsanya, larva ikan akan bereaksi dengan mendekatinya kemudian menangkap mangsanya, sifat pakan alami yang bergerak, tetapi tidak terlalu aktif dapat merangsang dan mempermudah larva ikan untuk memangsanya.

Selain beberapa kelebihan tersebut, pakan alami juga tidak mencemari median pemeliharaan sehingga diharapkan dapat menekan angka mortalitas benih akibat kondisi air yang kurang baik. Jenis pakan alami yang dapat dimakan ikan tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Pakan ikan yang pertama kali datang dari luar dan mengawali hidupnya adalah plankton yang bersel tunggal dan berukuran kecil. Semakin besar ukuran ikan maka jenis pakannya juga berubah, misalnya udang renik, cacing, atau serangga. Jenis pakan alami yang dapat dikembangbiakkan antara lain klorela, tetraselmis, infusoria, Moina sp, rotifera, Daphinia sp, jentik nyamuk, cacing merah, dan artemia.

Sifat umum pakan alami perlu diketahui sebelum terlanjur melakukan pembudidayaan. Hal-hal yang perlu diketahui meliputi morfologi, habitat, daur hidup, cara perkembang biakannya, kebiasaan makan, serta jenis pakannya. Pengetahuan morfologi setiap jenis pakan alami sangat berguna untuk menyesuaikan ukuran dan bentuk pakan alami yang akan dibudidayakan dengan jenis, ukuran, dan stadia ikan yang akan diberi produk dari pakan alami tersebut.

Pakan alami bagi ikan budidaya ataupun ikan yang ada di alam dapat di bagi menjadi dua yaitu pakan alami ada jenis phytoplankton dan dari jenis zooplankton. Ikan yang pada prinsipnya memakan jenis – jenis plankton ini adalah anakan ikan yang masih kecil. Jenis plankton dari phytoplankton dan zooplankton ini dapat di budidayakan dan di kultur untuk pakan alami bagi benih ikan.

Salah satu dari plankton jenis phytoplankton yang dapat di budidayakan atau di kultur adalah chlorella. Salah satu cara mengkultur chlorella adalah

  1. wadah dicuci bersih dan masukan media air laut
  2. sterilisasi air laut dengan di beri kaporit 5 ppm dilakukan pengadukan atau pengudaraan selama 24 jam, chlorin test digunakan untuk mengetahui kenetralan air
  3. untuk bibit yang di perlukan 20 – 30 % dari volume total, salinitas 28 – 30 ppt, suhu air 30 ºC , pH 8, cahaya yang dibutuhkan 10000 lux
  4. pupuk yang digunakan yaitu 50 – 60 ppm urea, 30 – 40 ppm ZA, 20 – 25 ppm SP 36, 1 – 5 ppm EDTA

Setelah chlorella ini tumbuh dan berkembangbiak maka dilakukan pemananan dengan cara langsung bersamaan air media kulturnya. Ukuran phytoplankton yang mikroskopik sulit untuk dilakukan penyaringan seperti chlorella. Fitoplankton yang mampu disaring adalan skeletonema, spirulina bentukselnya seperti benang sengan ukuran 20µm

Media kultur phytoplankton harus sudah berumur tua antara 5 hari sampai 10 hari untuk menghilangkan pupuk yang ada didalamnya karena pemberiannya bersama media air kultur dan di gunakan secara langsung sebagai pakan larva. Teknik panen yang digunakan adalah panen total yaitu dengan menggunakan pompa celup dan didistribusikan ke bak larva dan dialirkan secara perlahan sesuai kebutuhan dengan system gravitasi tanpa pompa.

Salah satu cara pengangkutan alga klorella yang tdak membutuhkan volume media yang banyak dengan cara pengendapan. Langkah pengendapan chlorella adalah sebagai berikut :

  1. Alga chlorella yang siap dipananen ditampung dalam wadah bervolume 1 ton
  2. NaOH teknis sebanyak 75 – 100 ppm dilarutkan dalam air laut dan ditambahkan pada chlorella tersebut dan diberi aerasi selama 2 jam.
  3. Setelah 2 jam, aerasi dimatikan dan tunggu 10 – 15 jam akan terjadi proses pengendapan alga yang ditandai dengan adanya larutan hijau alga yang mengendap didasar dan larutan bening yang berada diatasnya.
  4. Larutan benind di buang dan didapatkan endapan alga sekitar 25 – 30 liter.

Endapan chorella dapat digunakan sebagai bibit dengan dimasukan kemedia air laut 4 ton yang sudah diberi pupuk dan aerasi. Endapan chlorella dapat digunakan sebagai pakan larva yang diencerkan campuran air twar dan ditambah air laut perbandingan 1 : 4 dan diaerasi sekitar 1jam untuk menurunkan pH endapan chlorella. Penambahan asam dan asam strat dapat ditambahkan setelah diber air laut dan diaerasi. Pengukuran pH dapat digunakan PH meter atau kertas lakmus.

Cara - cara kultur untuk pertumbuhan phytoplankton kurang lebih sama dengan pengkulturan chlorella.

Selain phyoplankton yang dapat di kultur utuk budidaya pakan alami untuk ikan maka zooplankton dapat juga dikultur tetapi perlu tenaga ekstra untuk membudidayakannya. Salah satu zooplankton yang dapat dikultur adalah rotifer. Rotifer ini mempunyai klasifikasi dan identifikasi sebagai berikut

Phylum : Trochelminthes

Class : Rotaria

Ordo : Monongonanta

Famili : Branchionidae

Genus : Bracionus

Spesies : Brachionus sp

Organisme rotifer Branchionus plicatilis O.F Muller bebentuk simetris bilateral menyerupai piala.tubuh Branchionus plicatilis O.F. Muller terbagi atas tiga bagan pokok yaitu kepala, badan dan kaki/ekor. Branchionus plicatilis mempunya kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi. Pada kondisi normal, betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7 – 10 hari masa hidupnya. zooplankton ini dapat dikultur skala laboratorium, pada kultur tahap – taha awal kultur skala laboratorium di mulai dari sterilisasi peralatan, bahan, air media dan ruang bertujuan untuk membersihkan dari mikro organisme patogen dan bahan organik lannya. Solaasi di laukan untuk mendapatkan bibit murni zooplankton, bibit murni ini didapat dari alam atau hasil kultur masal yang terkontaminasi organisme lain. Bibit untuk isolasi diperoleh dari pengambilan sempel air yang disaring dengan planktonet ukuran 50 µm. Sempel air ditempatkan dipetridisk selanjutnya diamati d bawah mkroskop untuk didentifikasi, dan dipilih jenis zooplankton yang dikehendaki dengan menggunakan alat bantu pipet monospesies yang terkumpul diseleksi kembali pada petridisk lain untuk mendapatkan induk – induk yang mengandung telur. Kegiatantersebut dilakukan berulang – ulang hngga mendapatkan monospesies yang bebas organsme lain.

Induk dikembangkan secara bertahap dari test tube 50 ml – elrlenmeyer 1000 ml dimedia air laut steril, dengan pencahayaan lampu TL dan dilengkapi aerasi sebagai suplai oksgen. Dalam waktu 3 – 4 hari, rotifer yang dikultur berkembang dan dapat dipindahkan kedalam wadah yang volumenya lebih besar. Selama pemeliharaan pada skala laboretorium tidak ada perlakua ganti air, dan dlakukan penambahan fitoplankton sebagai pakan dari zooplankton. Penambahan rotifer dilakukan setiap hari dan perhitungan populasi dilakukan di bawah mikroskop dengan alat bantu sedgwich rafter cell dan hand counter.

Rotifer juga dapat di kultur semi masal, kultur semi masal ini dapat dilakukan pada wadah aquarium volume 100 liter, atau fiber 1-2 m³. Media kultur yang digunakan sebelumnya di sterilkan melalui fiber bag 25µ dan peralatan di sterilkan dengn chlorinsasi urang lebih 10 ppm dan penetralan kurang dari 5 ppm thosulfat. Rotifer dikultur dalam media air laut bersalinitas 30 – 32 ppt, sumber energi di peroleh dari sinar matahari secara tidak lngsung dan dilengkapi aerasi sebagai supla oksigen. Kepadatan rotifer yang digunakan dalam kultur semi masal berkisar 40 – 50 indv.

Dalam waktu 3-4 hari, rotifer yang di kultur dalam akuarium berkembang dan dapat digunakan sebagi bibit untuk ultur masa, pertambahn populasi rotifer di hitung setiap hari dan perhitungan populasi dilakukan di bawah mikroskop dengan alat bantu sedgwich rafter cell dan hand counter.

Selain kultur sem masal rotifer juga dapat dikltur masal pada bak volume 5 – 12 m³. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotfer yaitu metode panen harian dan metode transfer. Metode panen harian lebih praktis dan mudah sedangkan pada metode trasfer di perlukan bak yang lebh banyak, namun rotifer yang dihasilkan trasfer lebih bersih. Metode panen harian diawali penumbuhan phytoplankton dan bak kltur brachionus hngga mencapai kepadatan 3 – 4 juta sel/ml, setelah ftoplankton siap, bibit rotfer dapat ditebar dengan kepadatan 40 – 50 ind/ml yang diperoleh dari kultur semi masal. Pemanenan rotifer skala masal dapat dilakukan setelah mencapai kepadatan 150 – 200 ndv/ml atau ditandai beningnya media kultur karena alga telah habis di makan oleg brachonus.

Pada saat panen, rotifer pada bak kultur tidak dihabiskan namun di sisakan sebagian atau minmal 50 % dari tital sebagai bibit pengkulturan brachionus selanjutnya. Kemudian bak kultur di isi kembali dengan fitoplankton hingga volume semula

Pemanenan brachionus dengn cara mengalirkan air media pemeliharan dengan bantuan selang spiral 1” dan menyaring serta menmpung rotifera yang terbawa air media dengan planktonnet 200 – 400 µm. Panen brachionus dapat dilakukan setap hari pda bak kultur yang sama. Pada umumnya metode panen harian dapat berlangsung hingga 3 – 4 minggu. Hasil panen brachionus dapat langsung di masukan ke bak pemeliharaan larva ikan ataupun diperkaya terlebih dahulu untuk meningkatkan nilai nutrisi brachionus. Jika dengan metode transfer, kultur brachionus umumnya dilakukan menggunakan bak ukuran kecil maksimal 10 m³ tergantung kebutuhan harian kan brachionus. Persiapan kultur sama seperti pada metode harian. Panen dilakukan setelah brachionus mencapai kepadatan 150 – 200 indv/ml hingga habis. Agar panen dapat dilakukan secara kontinyu setiap hari maka harus tersedia beberapa bak kultur brachionus.

Selain di atas yang sudah di jelaskan bahwa pakan alami bermacam – macam bentuknya dan jenisnya dan dapat juga di budidayakan untuk pakan larva ikan. Plankton memang sangat spesial bagi kehidupan ikan karena sebagai sumber makanan bagi larva ikan akan tetapi plankton dapat juga menyebabkan larva ikan mati seperti misalnya adanya ledakan plankton atau yang sering disebut upwelling, atau kelimpahan plankton. Di saat seperti ini plankton akan banyak menghisap oksigen, apalagi dalam jumlah besar sehingga terjadi perebutan oksigen oleh plankton dan larva ikan dan bila larva ikan kekurangan oksigen maka akan menyebabkan ikan larva kan mati. Kejadian seperti ini pernah di teliti di teluk jakarta dan dapat disimpulkan bahwa Musim Timur merupakan musim saat terjadinya proses upwelling di perairan Laut Banda. Informasi adanya effek upwelling terhadap kelimpahan dan distribusi fitoplankton di perairan Laut Banda belum banyak terungkap. Untuk itu dilakukan penelitian pada bulan Agustus 1997 yang mewakili Musim Timur dan bulan Oktober 1998 yang mewakili Musim Peralihan sebagai pembanding. Data kelimpahan dan distribusi fitoplankton dengan mengambil contoh fitoplankton dari kedalaman 100 m ke permukaan menggunakan jaring plankton dengan bukaan mulut berdiamter 31 cm,panjang 120 cm dan ukuran mata jaring 80 µm. Hasil pengamatan pada musim timur (Agustus 1997) proses taikan air (upwelling) masih berlangsung. Hal ini terlihat dari nilai regresi antara suhu dan salinitas (r2 = 84,1 %), suhu dan nitrat (94,5%) Pada saat musim timur tercatat 33 jenis fitoplankton, komposisi jenis fitoplankton lebih bervariasi dibandingkan musim peralihan hanya 26 jenis fitoplankton. Pada musim timur jenis fitoplankton yang mendominasi adalah jenis Chaetoceros sp. Analisis lebih lanjut dengan analisis multivatiate, faktor nitrat mempengaruhi kelimpahan, komposisi dan distribusi fitoplankton.

Selain kasus yang ada di teluk jakarta masih banyak lagi kasus yang ada di asia tenggara seperti halnya yang terjadi di manado, para peneliti mengatakan bahwa Berbagai fenomena kelautan di belahan dunia terutama di Samudra Atlantik dan Pasifik telah lama mendapat perhatian para ahli oseanografi dari negara-negara maju. Berbekal kepakaran yang berkualitas dunia, sarana riset yang komplet dan canggih, multi-disiplin, multi-institusi, multinegara, dan dukungan dana yang besar, tabir gelap mengenai fenomena kelautan dan beragam jenis biota penghuninya telah banyak terungkap. Salah satu fenomena kelautan yang tetap aktual untuk dipelajari hingga saat ini adalah proses terjadinya upwelling. Informasi mengenai upwelling di perairan Indonesia sendiri masih amat sangat terbatas, terutama kaitannya dengan proses recruitment ikan. Untuk mengungkap proses upwelling tersebut baik secara mikro maupun makro dan kaitannya dengan jenis-jenis biota yang berasosiasi dalam proses ini diperlukan kajian yang lebih fokus dan serius. Berbagai parameter telah digunakan oleh para peneliti oseanografi untuk mendeteksi lokasi upwelling di perairan Indonesia. Parameter yang pertama kali digunakan oleh Wyrtki (1958) dan juga Veen (1960) untuk mendeteksi terjadinya upwelling di Laut Banda dan Selat Makassar adalah dengan menggunakan data suhu dan salinitas air. Dalam perkembangan selanjutnya (sejak tahun 1969) peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI memperluas parameter yang digunakan, tidak hanya terbatas pada suhu dan salinitas, tetapi juga pengukuran aspek kimia air (kadar fosfat, nitrat, dan silikat), aspek biologi (kadar khlorofil, kelimpahan fito-dan zooplankton), serta kelimpahan jenis-jenis ikan pelagis dengan menggunakan acoustic fish finder. Bahkan, dalam dekade terakhir telah pula digunakan citra satelit Topex/Poseidon, ERS-1, dan ERS-2 oleh BBPT. Namun, alat ini memiliki keterbatasan dalam memberikan informasi spasial di bawah permukaan laut yang hanya dapat diperoleh melalui observasi langsung. Penelitian mengenai upwelling yang telah dilakukan perlu dikembangkan lebih lanjut dengan memadukan data parameter kimia, plankton maupun biologi perikanan agar diperoleh pemahaman tentang proses yang menyebabkan terjadinya upwelling. Salah satu parameter biologi yang dapat ditawarkan untuk mengungkap fenomena upwelling di perairan dunia yaitu dengan menggunakan bio-indikator zooplankton kopepoda. Jenis-jenis kopepoda tertentu berasosiasi dengan mekanisme upwelling dan memiliki strategi siklus hidup yang khusus yang disesuaikan dalam kondisi normal. Salah satu parameter biologi yang dapat ditawarkan untuk mengungkap fenomena upwelling di perairan dunia yaitu dengan menggunakan bio-indikator zooplankton kopepoda. Jenis-jenis kopepoda tertentu berasosiasi dengan mekanisme upwelling dan memiliki strategi siklus hidup yang khusus yang disesuaikan dalam kondisi normal maupun ekstrem. Jenis kopepoda upwelling ini terdiri dari autochtbonous (lokal) maupun allochtbonous (pendatang).

Lokasi "Upwelling" menurut peneliti mengatakan bahwa Perairan Indonesia sangat dipengaruhi oleh tipe iklim Muson yang terdiri dari musim barat (Desember-Februari), musim peralihan I (Maret-Mei), musim timur (Juni-Agustus), dan musim peralihan II (September-November). Pada gilirannya tipe iklim ini akan berpengaruh terhadap kehidupan, kekayaan jenis, kelimpahan, sebaran biota maupun sifat-sifat dan fenomena oseanografi yang terjadi, misalnya proses upwelling. Setidak-tidaknya dikenal ada tujuh lokasi upwelling di perairan Indonesia. Sebagian besar lokasi upwelling ini terletak di Wallace area, yaitu suatu kawasan perairan yang dibatasi oleh garis Wallace di bagian barat dan garis Lydekker di bagian timur (Gambar 1). Daerah ini dikenal memiliki keanekaragaman jenis dan kelimpahan biota yang tinggi, beberapa jenis di antaranya bersifat unik dan endemik, yang merupakan sumbangan besar bagi keanekaragaman biota global. Selain Selat Makassar dan Laut Banda, upwelling juga terjadi di Laut Seram, Laut Maluku, Laut Arafura, dan perairan utara kepala burung dan perairan timur Papua. Satu-satunya lokasi upwelling di luar kawasan Wallacea adalah di perairan selatan Jawa hingga Sumbawa. Upwelling adalah proses yang terjadi di arus permukaan yang sangat penting bagi produksi biota planktonik ini dapat terjadi pada waktu tertentu (sekurang-kurangnya dalam hitungan minggu). Seperti diketahui arus air tidak hanya bergerak secara mendatar (horizontal), tetapi dalam beberapa sebab dapat pula bergerak secara menegak (vertikal). Fenomena upwelling akan terjadi apabila angin berembus terus-menerus di sepanjang pantai dengan kecepatan 15-25 knot yang menyebabkan massa air pantai yang bersuhu hangat (28Ý-29ÝC) di permukaan bergerak ke arah laut lepas (Ekman transport). Kekosongan massa air di permukaan ini selanjutnya diisi oleh naiknya massa air yang lebih dingin (25Ý-27ÝC) dari kejelukan antara 50-300 meter dengan kecepatan 1-5 meter per hari yang kaya unsur hara. Tingginya kadar hara, terutama fosfat, nitrat, dan silikat di permukaan dipadukan dengan intensitas cahaya matahari yang tinggi, akan memacu laju fotosintesa, fitoplankton (plankton nabati). Selanjutnya fitoplankton ini akan dimakan oleh kopepoda dan zooplankton lainnya yang bersifat plankton feeder yang merupakan pakan utama bagi berbagai jenis ikan pelagis kecil. Semua anggota dari fitoplankton tampaknya digunakan sebagai makanan oleh kelompok kopepoda kecuali cyanobacteria yang pada umumnya tidak disukai, kecuali oleh harpacticoid, Microsetella gracilis yang memakan Trichodesmium yang sungguh dibutuhkan sebagai makanannya. Ketika fitoplankton berlimpah isi perut kopepoda penuh dengan kumpulan sel-sel biota ini sehingga tubuhnya tampak berwarna hijau. Kopepoda merupakan holoplankton dari kelompok krustasea renik, lebih kecil dari udang dan kepiting, umumnya berukuran 0,5-2 mm. Kopepoda berasal dari bahasa Yunani kope, yang berarti dayung dan podos, yang berarti kaki, yang ditujukan untuk bentuk kaki-kaki renangnya yang pipih melebar. Sebagian besar tubuhnya transparan, beberapa di antaranya berwarna kuning telur, biru, ungu, atau hitam. Beberapa marga lainnya, misalnya Pleurommama dan Oncaea bersifat luminescence. Mereka dapat ditemukan di berbagai habitat dari perairan tawar sampai ketinggian 5.540 m di pegunungan Himalaya hingga samudra luas dari permukaan hingga lapisan-lapisan bathypelagic dengan kedalaman lebih dari 10.000 m. Kisaran distribusi vertikal ini sekitar ¾ dari kisaran maksimum yang mungkin pada permukaan bumi, dari titik terdalam di Palung Mariana ke puncak Mount Everest (20.372 m). Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa keanekaragaman jenis kopepoda ini lebih besar dari seluruh jenis biota yang ada di laut digabung menjadi satu. Beberapa jenis kopepoda biasa digunakan sebagai bio-indikator dalam menentukan lokasi upwelling di perairan dunia. Calanus pacificus dan Calanus marshallae merupakan bio-indikator upwelling di perairan lepas pantai California dan Oregon, Amerika Serikat. Dilaporkan bahwa pada saat upwelling sedang berlangsung kelimpahan anakan (kopepodit V) dari jenis ini di permukaan perairan mencapai 26 juta individu per meter kubik, dan kadar fosfat di permukaan air mencapai 2 µg atom per liter. Sedangkan Calanus carmatus biasa berasosiasi dengan upwelling di perairan Afrika Utara. Acartia clausi, Acartia longiremis, dan Oithona similis merupakan beberapa jenis kopepoda lainnya yang berasosiasi dengan mekanisme upwelling. Di perairan Indonesia, dua jenis kopepoda laut dalam yang dikenal sebagai bio-indikator upwelling adalah Calanoides philippinensis dan Rhincalanus nasutus. Pada saat musim upwelling berlangsung, biasanya berawal pada musim timur (Maret-September) stadia dini (nauplius dan kopepodit) dari kedua jenis kopepoda ini sangat melimpah di lapisan permukaan air. Sebaliknya bentuk dewasanya sangat jarang ditemukan. Mereka menimbun lemak sebanyak mungkin dari fitoplankton, nauplius maupun detritus yang dimakannya untuk pertumbuhan dan cadangan makanan pada saat downwelling. Menjelang berakhirnya musim upwelling, pada saat stok makanan di permukaan mulai menipis, sebagian besar anakan (kopepodit V) dari kedua jenis kopepoda tersebut akan menyelam ke kedalaman 300-500 meter atau lebih. Di lapisan kedalaman ini, kopepodit V akan beristirahat (resting state), mengurangi metabolisme dan aktivitasnya tanpa makan selama 5-6 bulan dan tetap bertahan sebagai kopepodit V menunggu sampai musim upwelling berikutnya. Ketika musim upwelling tiba kopepodit V ini berenang kembali ke lapisan dekat permukaan untuk menjadi dewasa, kawin dan bertelur. Konsentrasi paling tinggi dari upwelling species, biomassa zooplankton tertinggi dan temperatur air terendah terjadi di bagian barat dan utara Kepulauan Aru. Strategi mempertahankan siklus hidup yang hampir mirip ditunjukkan oleh Calanus finmarchicus di perairan Atlantik Utara. C finmarchicus adalah omnivora, memakan fitoplankton, krustasea sangat kecil lainnya, dan juga detritus untuk mendapatkan sejumlah besar nitrogen dan fosfor dari sumber ini pada saat blooming di musim semi. Bahan makanan yang berasal dari jasad hidup alami yang mengandung banyak lemak ini penting sebagai cadangan untuk menyokong hidupnya pada saat menghadapi musim dingin. Pertumbuhan dan reproduksi dari C finmarchicus terjadi pada lapisan samudra ($> 100 meter). Dalam keadaan normal C finmarchicus mempunyai siklus hidup antara 30-50 hari yang meliputi perkembangan enam stadia larva (nauplius I-VI) dan enam stadia juvenil (kopepodit I-VI). Akan tetapi, dalam keadaan ekstrem (kritis) mereka mengubah strategis siklus hidupnya secara drastis, terutama dalam menghadapi musim dingin yang panjang (masa paceklik). Stadia akhir pra-dewasa (kopepodit V) C finmarchicus akan menyelam dan tinggal dekat dasar atau pada lapisan kedalaman 300-400 meter, mempertahankan hidupnya tetap sebagai kopepodit V tanpa makan selama 6-8 bulan.

Menjelang musim semi kopepodit V dari C finmarchicus ini akan berenang kembali ke lapisan dekat permukaan untuk menjadi dewasa, kawin dan membentuk suatu generasi baru. Di bagian utara dunia yang lebih ekstrem, di Laut Greenland dan Selat Davis, populasi C finmarchicus dalam satu tahun hanya dapat menghasilkan satu generasi saja. Sebaliknya di perairan lebih ke selatan, misalnya pantai timur Amerika Serikat, setidak-tidaknya dalam setahun jenis ini dapat menghasilkan dua generasi. Konsep lain yang ditawarkan oleh Fleminger (1985) dalam mengamati strategi siklus hidup Calanus pacificus californensis dalam sistem arus California. Pada awal musim gugur hingga musim dingin sebagian besar stadia pra-dewasa (kopepodit V) C p californensis menyelam ke kedalaman 300-400 meter, mengistirahatkan diri tetap dalam stadia kopepodit V dan berpuasa hingga musim dingin berakhir. Menjelang awal musim semi kopepodit V ini berenang ke permukaan untuk menjadi dewasa, sebagian besar persentasenya adalah betina. Mereka tinggal dekat lapisan permukaan dan menghabiskan musim semi dan musim panas (masa panen) untuk menimbun lemak, tumbuh dan bereproduksi. Setelah musim panas berakhir, kopepodit V dari generasi berikutnya kembali menyelam untuk beristirahat, mengurangi aktivitas dan metabolisme, dan berpuasa sampai musim semi tiba.

Keuntungan dan kerugian upwelling adalahsebagai berikut, Lokasi upwelling merupakan daerah yang subur dan ideal bagi ikan-ikan pelagis kecil untuk memperoleh pakan, yang pada gilirannya akan dimangsa oleh ikan-ikan yang berukuran besar. Hubungan yang saling berkesinambungan ini menjadikan lokasi upwelling sebagai area yang sangat ideal untuk menangkap ikan (fishing ground). Lokasi upwelling di perairan lepas pantai California telah lama dikenal sebagai tempat yang baik untuk penangkapan ikan Sardinopsis (dari famili Clupeidae). Tak berbeda jauh di perairan lepas pantai Peru yang menjadi era penangkapan ikan anchovy (dari famili Engraulidae). Di pantai barat Afrika, Sardinella sp. merupakan jenis ikan yang sangat dominan ditangkap. Meskipun daerah upwelling diakui sebagai tempat yang ideal untuk penangkapan ikan, namun daerah ini juga menjadi tempat peminjahan ikan yang potensial untuk mendukung proses perekrutan ikan tembang, japuh, lemuru (Clupeidae), serta puri atau teri dari kelompok Engraulidae. Proses upwelling akan sangat berguna bagi perekrutan ikan apabila kecepatan angin tidak melebihi 5-6 meter per detik. Kecepatan angin yang tinggi akan berdampak negatif bagi proses perekrutan. Hal lain yang sangat penting adalah timing (ketepatan atau ketidak tepatan) dalam ketersediaan pakan alami bagi larva ikan tersebut. Maka penangkapan ikan di daerah upwelling harus dipertimbangkan tentang kelestariannya karena penangkapan yang berlebihan (over fishing) akan merugikan secara ekonomi dan biologi. Pengayaan hara (nutrient enrichment) akibat upwelling juga dapat memicu terjadinya red tide, akibat terjadinya biakan massal populasi fitoplankton tertentu dengan jumlah puluhan juta sel per liter air. Biakan massal ini dapat merubah warna perairan menjadi merah kecoklatan, hijau kekuningan atau biru kehijauan. Akumulasi konsentrasi dari sel-sel tersebut terletak dari permukaan hingga lapisan kedalaman 2-5 meter. Secara normatif red tide dapat terjadi karena adanya sumbangan hara dari daratan yang sangat tinggi, perubahan cuaca (El Nino, La Nina?), hujan yang berlebihan, atau kurangnya zooplankton (kopepoda) herbivora yang mengontrol populasi fitoplankton penyebab red tide. Sedikitnya dikenal ada 20 jenis plankton yang potensial menimbulkan red tide di perairan Indonesia. Pyrodinium bahamense var compressum dan Alexandrium affine merupakan dua jenis plankton penyebab red tide di Teluk Kao dan Teluk Ambon. Peristiwa red tide menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan dan sumber daya ikan di perairan alami, tambak, serta menghilangnya ikan-ikan dari lokasi penangkapan. Munculnya jenis-jenis plankton red tide akan menimbulkan kematian massal biota laut akibat pengurasan oksigen (anoxious), merusak dan mengganggu sistem pernapasan ikan, dan meracuni lingkungan perairan dan biota laut lainnya. Sebagai contoh red tide dari Trichodesmium thiebautii (cyanobacteria) di Lampung pada tahun 1991, telah menyebabkan kerugian sekitar Rp 3,5 miliar akibat kematian massal udang windu yang siap panen. Matinya kerang-kerang mutiara di loka budidaya Dobo, Maluku Tenggara, dan kematian ikan sardine di sepanjang Pantai Kuta, Bali, pada tahun 1995, serta kematian massal ikan di perairan Waigeo, Sorong, pada tahun 1996 merupakan beberapa kejadian yang diakibatkan oleh red tide. Dan, masih banyak lagi kasus-kasus kematian sumber daya ikan akibat red tide di berbagai wilayah perairan Indonesia yang luput dari perhatian. Di satu sisi, pengayaan nutrien (eutrofikasi) akibat mekanisme upwelling berdampak positif bagi kesuburan suatu perairan dengan terpeliharanya sumber daya perikanan. Di sisi lain, upwelling juga dapat menyebabkan kerugian karena menimbulkan ledakan pertumbuhan (blooming) dari jenis-jenis plankton penyebab red tide. Pengkajian lebih lanjut mengenai fenomena upwelling dan dampaknya di perairan Indonesia merupakan masalah yang sangat penting, karena masih banyak parameter lainnya yang berhubungan dengan upwelling yang perlu diteliti secara lebih akurat. Pada akhirnya hal ini erat kaitannya dengan kebijakan pengelolaan sumber daya ikan secara baik dan benar.

SUMBER RINGKASAN : Internet : www.kompas.com. Materi Kultur Pakan Alami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar