Kamis, 05 Februari 2009

kualitas air

I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Kualitas air berbeda menurut asalnya; air, hujan, air tanah, air waduk atau danau, dan air sungai memiliki sifat-sifat kimia dan fisika berbeda. Pemeriksaan kualitas harus dilakukan pada sumber air secara horizontal dan kalau mungkin secara vertikal juga. Pemeriksaan secara horizontal berarti menganalisa sampel air pada beberapa tempat di lapisan permukaan, sedangkan secara vertikal dilakukan dengan menganalisa sampel air pada beberapa kedalaman tertentu. Pemeriksaan secara horizontal berguna untuk mengetahui keseragaman lapisan permukaan, sedangkan secara vertikal untuk mengetahui kemungkinan terdapat lapisan (stratifikasi).

Pemeriksaan kualitas air meliputi kandungan oksigen, karbondioksida, amoniak, suhu, kejernihan, dan organisme air. Pengukuran sifat fisika kimia air, sebaiknya dilakukan sepanjang tahun, minimal pada musim hujan dan kemarau. Informasi mengenai perubahan sifat fisika kimia dalam setahun akan sangat menolong dalam manajemen usaha selanjutnya. Jika terdapat periode debit air berkurang atau kualitas air menurun, maka untuk masa-masa tersebut dapat diprogramkan pengurangan atau penjualan populasi ikan dan sebagainya.

Hasil pengamatan diproyeksikan kemasa yang akan datang atas dasar kondisi lingkungan setempat dan daerah aliran sungai (watershed). Lingkungan setempat dan daerah aliran sungai dapat terdiri atas persawahan, perkebunan, peternakan, pemukiman, daerah industri, pusat rekreasi, semak belukar, hutan dan lain-lain. Kondisi ini perlu dipelajari dalam status kini dan masa depan.

B. Tujuan

Untuk mengetahui kualitas air suatu perairan yang meliputi kandungan oksigen, karbondioksida, amoniak, suhu, kejernihan, pH, dan organisme air.

II. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan tempat

Pelaksanaan praktikum Manajemen Kualitas Air, pada :

Hari / tanggal : Sabtu, 5 Mei 2007 dan Minggu, 6 Mei 2007

Tempat : Kediaman Bapak Kamal di Dusun Selangan Laut, Desa Sekambing (Bontang)

B. Alat dan bahan

· Bahan

- Sampel air

- Larutan Regent

· Alat

- Alat tulis

- Gelas ukur

- YSI 556 MPS (kecuali kecerahan)

- Test kit (amoniak dan nitrit)

C. Metode

· Cara mengetahui nilai kadar amoniak dan nitrit

- Amoniak, air sampel ditetesi Regent (R1 dan R2) sebanyak 5 tetes, hasil tetesan tersebut dibandingkan dengan kertas warna (test kit ) yang menentukan nilai kadar amoniak.

- Nitrit, air sampel ditetesi Regent (R1 dan R2) sebanyak 5 tetes, hasil tetesan tersebut dibandingkan dengan kertas warna ( test kit ) yang menentukan nilai kadar nitrit.

· Untuk mengetahui parameter kualitas air, yaitu menggunakan alat YSI 556 MPS ( kecuali kecerahan)

D. Prosedur

Praktikum Manajemen Kualitas Air dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi lingkungan perairan pada wadah pemeliharaan ikan di kediaman Bapak Kamal dan perairan Dusun Selangan Laut Desa Sekambing.

- Pada kediaman Bapak Kamal,

Dapat diketahui proses pemeliharaan ikan, udang dan karang dalam wadah pemeliharaan. Proses pemeliharaan ikan menggunakan alat skimer sebagai pefilteran. Pada pemeliharaan udang menggunakan filter biasa, sedangkan pemeliharaan karang menggunakan alat skimer. Penggunaan alat skimer dan filter biasa tidak jauh berbeda, hanya hasil yang didapat dari suatu perairan, penyaringan menggunakan alat skimer lebih bersih dan hasil penyaringan yang berupa busa mudah dibuang.

- Pada Dusun Selangan Laut Desa Sekambing,

Dapat diketahui nilai kandungan parameter kualitas air, menggunakan alat YSI 556 MPS (kecuali kecerahan ).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Dusun Selangun Laut Desa Sekambing

· Pada tanggal 5 Mei 2007 jam 15.00 WITA, dapat diketahui kandungan kualitas air yaitu sebagai berikut :

DO : 3,51 // 9,9 (IIZ)

Suhu : 32,48 0C

Konduktif : 48,41

TDS : 27,25

Salinitas : 27,24

Saturasi DO : 57,51

pH : 7,82

Redox ensial : - 33,09

Kedalaman air : 50 cm

Kecerahan : 50 cm

- Nitrit NO2 – N < 0,1 mg/l

- Amoniak – test (NH4 / NH3) = 0,3 mg/l

- PHospHat – test (PO4) = 0,1 mg/l

- Keadaan cuaca : hujan (rintik)

· Pada tanggal 5 Mei 2007 jam 9.30 WITA, dapat diketahui kandungan kualitas air yaitu sebagai berikut :

DO : 3,03

Suhu : 29,54 0C

Konduktif : 47,29

TDS : 28,29

Salinitas : 27,92

Saturasi DO : 46,3

pH : 7,60

Redox ensial : -19,9

Kedalaman air : 1 m

Kecerahan : -

- Nitrit (NO2) : < 0,1 mg/l

- Amoniak (NH4) : 0 mg/l

- PHospHat (PO4) : 0,1 mg/l

- Keadaan cuaca : stabil (pada malam hari)

· Pada tanggal 6 Mei 2007 jam 5.57 WITA, dapat diketahui kandungan kualitas air yaitu sebagai berikut :

DO : 2,64

Suhu : 29,54 0C

Konduktif : 47,35

TDS : 28,31

Salinitas : 27,95

Saturasi DO : 41,3

pH : 8,04

Redox ensial : - 45,7

Kedalaman air : ± 1,5 m

Kecerahan : ± 1,5 m

- Nitrit (NO2) : 0 mg/l

- Amoniak (NH4) : 0 mg/l

- PHospHat (PO4) : 0 mg/l

- Keadaan cuaca : hujan

1. Bapak Kamal (Ketua Himpunan Pembudidaya Perikanan dan Kelautan di Bontang)

· Wadah Budidaya Udang (filter biasa)

pH : 7,45

DO : 5,66

Salinitas : 18,65

Suhu : 28,34

· Wadah Budidaya Ikan (skimer)

PH : 7,28

DO : 27,5

Salinitas : 28,6

Suhu : 5,00

· Wadah Budidaya Karang

pH : 7,5

Kadar garam : 28

Densitas : 1,021

Suhu : 28

· Dalam Budidaya ikan dan karang, Bapak Kamal melakukan penyaringan air menggunakan skimer.

Gambar : Rangkaian Skimer.

B. Pembahasan

Dari hasil praktikum, dapat kita kaitkan kualitas air laut dengan beberapa parameter yang digunakan (Ghufron H, 2005).

- Oksigen

Ikan membutuhkan oksigen guna pembakaran bahan bakarnya (makanan) untuk menghasilkan aktivitas, seperti aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi, dan sebaliknya.

Untuk pertumbuhan ikan laut, kandungan oksigen terlarut dalam air minimal 4 ppm dengan kandungan optimum adalah 5-6 ppm.

- Derajat Keasaman (pH) Air

pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan berkurang produktif, malah dapat membunuh ikan. Pada pH rendah (keasaman tinggi) kandungan oksigen terlarut akan berkurang sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktivitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang. Hal yang sebaliknya terjadi pada suasana basa. Atas dasr ini, maka usaha budidaya ikan, akan berhasil baik dalam air dengan pH 6,5-9,0 dan pertumbuhan optimal ikan terjadi pada pH 7-8.

Air laut mempunyai daya penyangga (buffer) yang besar terhadap perubahan pH. Umumnya pH air laut antara 7,6-8,7.

- Suhu

Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena penyebaran organisme baik di laut maupun di perairan tawar dibatasi oleh suhu perairan tersebut. Suhu sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhan ikan.

Kisaran suhu optimal bagi kehidupan ikan adalah antara 24-32 0C. Bila suhu rendah ikan akan kehilangan nafsu makan, sehingga pertumbuhannya terhambat. Sebaliknya bila suhu terlalu tinggi ikan akan stres bahkan mati kekurangan oksigen. Baik suhu yang terlalu rendah maupun terlampau tinggi dapat membahayakan ikan, karena beberapa patogen berkembang baik pada kondisi tersebut.

- Salinitas

Salinitas adalah konsentrasi rata-rata seluruh larutan garam yang terdapat di dalam air laut. Cara yang biasa digunakan untuk menentukan salinitas adalah menghitung jumlah kadar garam dalam satu sampel yang biasa disebut klorinitas, dengan rumus : 0/00 = klorinitas x 1,817.

Di perairan Samudra, salinitas biasanya berkisar antara 34-35 per mil (PPT = part per thousand). Di perairan pantai karena terjadi pengenceran aliran sungai, salinitas biasanya turun, sebaliknya di daerah dengan penguapan yang sangat tinggi biasanya salinitas meningkat tinggi.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

- Dapat diketahui perbedaan dalam penggunaan skimer dan filter biasa. Menggunakan skimer lebih efektif dan mudah dalam proses pemfiltrasian.

- Parameter kualitas air hangat menentukan kelangsungan hidup suatu organisme di perairan.

- pH merupakan penyangga (buffer) terbesar terhadap air laut.

B. Saran

- Penanggulangan terhadap kerusakan suatu perairan harus diperhatikan, agar organisme di perairan tetap terjaga kelestariannya.

- Parameter kualitas air harus diperhatikan dalam melakukan budidaya di suatu perairan.

DAFTAR PUSTAKA

Jangkaru Zulkifli Ir. 1984. Pemeliharaan Ikan dalam Kolam Air Deras. CV. Yasaguna, Bogor.

K Kordi H Ghufron, M. 2005. Budidaya Ikan Laut di Keramba Jaring Apung. Rineka Cipta, Jakarta.

posting gambar


Ini adalah ikan nila Gesit yang berhasil ditemukan di BBPBATS jawa barat


TOKSIK

EFEK DARI NITROGEN DAN SATUAN TERENDAH POSFOR PADA ASAM NUKLEAT DAN KANDUNGAN PROTEIN DARI Heterocapsa SP

ABSTRAK

Perubahan dalam protein, RNA dan DNA pada kandungannya dihubungkan pada angka terendah Nitrogen dan Posfor dipelajari pada Dinoflagelata laut Heterocapsa SP yang tumbuh dalam kultur tertt. Dalam semua kasus angka terendah Nutrien adaptasi metabolic diakibatkan protein dan RNA, dimana kandungan DNA persel ditunjukan secara konstan angka terendah N pada penurunan paralel dalam konsentrasi protein dan RNA, yang menyebabkan rasio protein dan RNA menjadi konstan. Sebuah penurunan dramatic dalam kandungan RNA dikarakteristikan pada kultur angka terendah P. walaupun sintesis protein dilanjutkan, kandungan ribosom RNA lebih kecil dibandingkan yang diharapkan untuk didapatkan dari sintesis protein. Ini disarankan bahwa rasio protein dan RNA dapat digunakan sehingga suatu indicator dari angka terendah P dimana rasio protein atau klorofil akan dikarakteristikan angka terendah N.

PENDAHULUAN

Dalam komponen Biologi, RNA, DNA dan protein adalah partikel Biokimia yang atraktif dari status psikologi karena secara langsung hubungan mereka untuk dibagian sel dan pertumbuhan RNA, dimana lebih banyak dibanding DNA didalam sel dianggap sebagai indikator dari pertumbuhan karena secara langsung dalam sintesis protein dan sensitifitasnya pada kondisi lingkungan, sebagaimana kemampuan nutrien. Penelitian sebelumnya menggunakan dinamika dari protein, RNA dan DNA dan dalam pertumbuhan Dinoflagelata Heterocapsa SP didalam jumlah terkecil N dan P memberikan aturan struktural dari P dalam skleton RNA dan DNA dan dalam sistem ATP/ADP hal ini dapat dianggap bahwa perubahan dalam kemampuan P akan dihasilkan dalam variasi dalam bagian asam nkleat karena N adalah komponen dari semua protein dan Asam Nukleat.

METODE

Ø Kondisi Kultur dan Pertumbuhan

Yang paling utama dalam eksperimen suatu kultur Heterocapsa SP dimulai dalam sebuah flask yang berisi 750ml dari medium f/2-si. Jumlah sel perhari dibuat dalam waktu yang bersamaan dengan sebuah alat multisizer coulter counter dengan sebuah tube berukuran 140µm.

Ø Rancangan Eksperimen

Pengambilan sample untuk jumlah sel dan perkiraan volume yang diambil sekali sehari, 3 jam setelah periode penyinaran dilakukan untuk menghindari variasi dari pencahayaan gelap dan terang. Sample untuk RNA, DNA dan protein dikumpulkan pada hari ke4, ke6, ke9, setelah inokulasi waktu pengambilan sample ini dihubung secara eksponen, tahap awal dan tahap selanjutnya (grafik 1)

Ø Penentuan

Konsentrasi DNA ditunjukan pada jumlah sel karena perubahan dalam rata-rata ukuran sel di induksi melalui perlakuan, RNA dan protein dinormalkan pada volume sel. Rasio pada parameter biokimia yang berbeda diberikan sebagai perbandingan berat.

HASIL

Kurva Pertumbuhan dan Volume Sel

Secara umum volume dari sel pada semua N dan P yang diperlakukan meningkat secara progresive pada akhir dari eksperimen 38 dan 94% lebih tinggi dibandingkan penentuan selama tahapan angka pertumbuhan

Variasi pada DNA, RNA, Protein dan sel klorofil

Dalam kultur angka terendah P kandungan sel DNA dinaikan sedikit selama percobaan variabel yang diobservasi dalam sel DNA mengandung tahapan pertumbuhan dari setiap perlakuan yang berhubungan dengan perubahan dalam sel terhadap pemakaian nutrien

PEMBAHASAN

Secara ringkas hasil yang diperoleh disarankan bahwa efek dan deplesi N atau P pada status psikologi dalam sel phytoplankton melalui pengertian dari analisis simultan pada protein, asam nukleat dan klorofil bagaimanapun juga selama spesies tertinggi reponsi spesifik dari organisme selama kondisi nutrien lebih bekerja yang dianggap pada spesies yang berbeda dan group phytoplankton dalam menetapkan ekologi signifikan dari tujuan indikasi

Suatu kenaikan dalam ukuran sel pada angka terendah N dapat dijelaskan melalui bagian dari protein pada sintesis karbohidrat dan lipid. Faktor lain partikelnya relevan pada sel angka terendah P, yang dapat dilakukan dari sel untuk dibagi

pakan alami

Pakan Alami


Pakan alami ialah makanan hidup bagi larva dan benih ikan mencakup fitoplankton, zooplankton dan benthos serta berperan sebagai sumber protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Disamping mengandung gizi yang lengkap pakan alami mudah dicerna sebab mengandung enzim yang dapat membantu pencernaan di usus larva atau benih ikan yang belum berkembang alat pencernaannya. Pakan alami berukuran relatif kecil (150 mikron - 1 mm) sesuai dengan bukaan mulut larva atau benih dan bergerak tidak begitu aktif sehingga mempermudah larva atau benih untuk memangsanya. Karena sifatnya yang hidup, pakan alami tidak mencemari media pemeliharaan larva atau benih ikan. Pakan alami jenis fitoplankton diketahui sebagai makanan awal bagi larva ikan laut yang relatif bukaan mulut larvanya kecil. Sedangkan sebagian larva ikan air tawar banyak memanfaatkan zooplankton karena bukaan mulut larvanya relatif besar. Namun beberapa ikan air tawar termasuk ikan hias ada yang bukaan mulut larvanya relatif kecil sehingga di dalam usaha pembenihan memerlukan zooplankton yang ukurannya kecil. Pakan alami sebagian mudah didapat dari alam dan ada yang mudah dibudidayakan. Media kultur untuk pembudidayaan pakan alami dapat berupa media alga atau media yang banyak mengandung bakteri untuk itu fasilitas pengembangbiakan khususnya alga perlu dipersiapkan. Sedangkan media bakteri mudah didapat dengan menggunakan kotoran hewan. Penyediaan pakan alami secara berkesinambungan dan peruntukannya yang tepat akan meningkatkan pertumbuhan dan sintasan larva dan benih ikan.

Pakan alami dengan berbagai kelebihannya sangat cocok untuk benih ikan. Selama ini, pakan alami diperoleh dengan cara menangkap di alam atau dengan membudidayakannya. Ketersediaan pakan alami merupakan faktor penting dalam budidaya ikan terutama pada usaha pembenihan dan usaha budidaya ikan.

Pakan alami merupakan pakan hidup bagi larva ikan yang mencakup fitoplankton, zooplankton, dan benthos. Pakan alami untuk larva atau benih ikan mempunyai beberapa kelebihan karena ukurannnya relatif kecil dan sesuai dengan bukaan mulut larva atau benih ikan, nilai nutrisinya tinggi, mudah dibudidayakan, gerakannya dapat merangsang ikan untuk memangsanya, dapat berkembang biak dengan cepat sehingga ketersediaannya dapat terjamin, dan biaya pembudidayaannya relatif murah.

Larva ikan mencari dan menangkap pakannya dengan mengandalkan kemampuan matanya. Apabila menemukan mangsanya, larva ikan akan bereaksi dengan mendekatinya kemudian menangkap mangsanya, sifat pakan alami yang bergerak, tetapi tidak terlalu aktif dapat merangsang dan mempermudah larva ikan untuk memangsanya.

Selain beberapa kelebihan tersebut, pakan alami juga tidak mencemari median pemeliharaan sehingga diharapkan dapat menekan angka mortalitas benih akibat kondisi air yang kurang baik. Jenis pakan alami yang dapat dimakan ikan tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Pakan ikan yang pertama kali datang dari luar dan mengawali hidupnya adalah plankton yang bersel tunggal dan berukuran kecil. Semakin besar ukuran ikan maka jenis pakannya juga berubah, misalnya udang renik, cacing, atau serangga. Jenis pakan alami yang dapat dikembangbiakkan antara lain klorela, tetraselmis, infusoria, Moina sp, rotifera, Daphinia sp, jentik nyamuk, cacing merah, dan artemia.

Sifat umum pakan alami perlu diketahui sebelum terlanjur melakukan pembudidayaan. Hal-hal yang perlu diketahui meliputi morfologi, habitat, daur hidup, cara perkembang biakannya, kebiasaan makan, serta jenis pakannya. Pengetahuan morfologi setiap jenis pakan alami sangat berguna untuk menyesuaikan ukuran dan bentuk pakan alami yang akan dibudidayakan dengan jenis, ukuran, dan stadia ikan yang akan diberi produk dari pakan alami tersebut.

A. Chlorella

1. Sistematika dan Morfologi

Chlorella merupakan alga hikau yang di klasifikasikan sebagai berikut

Phylum : Chlorophyta

Kelas : chlorophhyceae

Ordo : Chlorococcales

Familia : Chlorellaceae

Genus : Chlorella ( Bougis, 1979 )

Bentuk sel chlorella bulat atau bulat telur, merupakan alga yang bersel tunggal tetapi kadang – kadang bergerombol. Diameter sel berkisar antara 2- 8 mikron, berwarna hijau karena klorofil merupakan pigmen yang dominan, dinding selnya keras terdiri atas selulosa dan pektin. Sel ini mempunyai pitoplasma berbentuk cawan. Chlorella dapat bergerak tetapi sangat lambat sehingga pada pengamatan seakan – akan tidak bergerak.

2. ekologi chlorella

Chlorella dapat hidup di air yang menggenang dengan sumber makanan yang cukup, chlorella ini adalah sebagai pakan alami ikan yang sangat baik bagi kelangsungan pertumbuhan ikan.

3. reproduksi

Chlorella ini dapat berkembangbiak dengan membelah sel, Selnya bereproduksi dengan membentuk dua sampai delapan sel anak di dalam sel induk yang akan dilepaskan dengan melihat kondisi lingkungan salinitas 0-35 ppt dan yang optimal pada 10-20 ppt, kisaran suhu optimal 25-30°C dan maksimum pada 40 ° C.

4. Budidaya chlorella

Chlorella dapat dibudidayakan dengan menyiapkan wadah budidaya yang terbuat dari bak plastik, bak semen, dan tempat – tempat yang memungkinkan chlorella dapat tumbuh. Persiapan – persiapan yang dilakukan adalah :

- Menyiapkan wadah

- Menyeterilkan wadah dari kotoran.

- Menggunakan pupuk urea

- Terakhir, bak diisi dengan air

B. Tetraselmis

1. Sistematika dan morfologi

Tetraselmis berupa orgaisme hijau motil, lebar 9-10 mm, panjang 12-14 mm, dengan empat flagel yang tumbuh dari sebuah alur pada bagian belakang anterior sel. Sel-selnya bergerak dengan cepat di air dan tampak bergoncang pada saat berenang. Ada empat cuping yang memanjang dan memiliki sebuah titik mata yang kemerah-merahan.

2. Ekologi

Tetraselmis hidup di air dan tampak bergoncang pada saat berenang. Tetraselmis juga sebagai pakan alami yang di butuhkan oleh ikan dan tetraselmis ini dapat hidup pada salinitas standar.

3. Reproduksi

Tetraselmis ini dapat berkembangbiak dengan membelah sel, Selnya bereproduksi dengan membentuk dua sampai delapan sel anak di dalam sel induk yang akan dilepaskan dengan melihat kondisi lingkungan salinitas 0-35 ppt dan yang optimal pada 10-20 ppt, kisaran suhu optimal 25-30°C dan maksimum pada 40 ° C.

4. Budidaya tetraselmis

Tetraselmis dapat di budidayakan dengn cara sabagai berikut :

a. Dalam wadah 1liter

  1. Dapat menggunakan botol erlenmeyer. Botol, slang plastik, dan batu aerasi dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan larutan klorin 150 ml/ton.
  2. Wadah diisi air medium dengan kadar garam 28 permil yang telah disaring dengan saringan 15 mikron. Kemudian disterilkan dengan cara direbus, diklorin 60 ppm dan dinetralkan dengan 20 ppm Na2S2O3, atau disinari lampu ultraviolet.
  3. Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :

a. Natrium nitrat ? NaNO3 = 84 mg/l

b.Natrium dihidrofosfat-NaH2PO4 = 10 mg/l

c. atau Natrium fosfat-Na3PO4 = 27,6 mg/l

d.atau Kalsium fosfat-Ca3(PO4)2 = 11,2 mg/l

e. Besi klorida ? FeCl3 = 2,9 mg/l

f. EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) =

g. 10 mg/l

h. Tiamin-HCl (vitamin B1) = 9,2 mg/l

i. Biotin = 1 mikrogram/l

j. Vitamin B12 = 1mikrogram/l

k.Tembaga sulfat kristal CuSO4.5H2O = 0,0196

l. mg/l

m. Seng sulfat kristal ZnSO4.7H2O = 0,044 mg/l

n. Natrium molibdat-NaMoO4.7H2O = 0,02 mg/l

o.Mangan klorida kristal-MnCl2.4H2O = 0,0126

p.mg/l

q.Kobalt korida kristal-CoCl2.6H2O = 3,6 mg/l

b. Dalam wadah 1 galon (3 liter)

· Dapat menggunakan botol ?carboys? atau stoples.

· Persiapan sama dengan dalam wadah 1 liter.

· Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :

1. Urea-46 = 100 mg/l

2. Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 10 mg/l

3. Agrimin = 1 mg/l

4. Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/l

5. EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 2 mg/l

6. Vitamin B1 = 0,005 mg/l

7. Vitamin B12 = 0,005 mg/l

c. Dalam wadah 200 liter dan 1 ton

c.1. Wadah 200 liter dapat menggunakan akuarium, dan untuk 1 ton menggunakan bak dari kayu, bak semen, atau bak fiberglass.Persiapan lain sama.

c.2 Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagaiberikut :

1. Urea-46 = 100 mg/liter

2. Pupuk 16-20-0 = 5 mg/liter

3. Kalium hidrofosfat-K2HPO4 = 5 mg/liter

i. atau Kalium dihidrofosfat-K2H2PO4 = 5 mg/liter

4. Agrimin = 1 mg/liter

5. Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/liter

d.3 Untuk wadah 1 ton dapat hanya menggunakan urea60-100 mg/liter dan TSP 20-50 mg/liter.

Setelah Tetraselmis tumbuh dan siap di panen maka pemanenan tetraselmis dengan cara pemanenan langsung diumpankan dan diambil dari budidaya masal1 ton.

C. Budidaya Moina

1. Sistematika dan Morfologi

Moina banyak hidup di perairan- perairan yang tidak begitu dalam, dan dapat hidup di genangan air ataupun di selokan – selokan. Moina banyak jenis dan bentuknya, moina mempunyai kaki dan hidup dapat bergerak berenang dan dapat menjadi makanan ikan alami yang mempunyai gizi yang bagus bagi kelangsungan hidup benih ikan.

2. Ekologi

Moina dapat hidup di genangan air dan dapat hidup di selokan yang suhu optimal 22-31 ° C, dan pH optimal 6,6-7,4. moina sangat kaya akan gizi sehingga para peneliti mampu menjadikan moina dapat dikultur.

3. Reproduksi

Moina dapat bereproduksi dengan bertelur, jumlah telur yang di produksi moina sangat banyak sehingga dapat mengkultur dalam waktu singkat menghasilkan bayak anakan moina. Moina mengalami kawin antara moina jantan dan betina sehingga mampu berkembang biak dengan menghasilkan eturunan, tidak seperti chlorella yang berkembangbiaknya dengan membelah diri.

4. Budidaya moina

Moina dapat di budidayakan dengan kultur dengan tahapansebagai berikut :

a. persiapan wadah

  1. Wadah yang digunakan adalah berbagai macam bak dengan ukuran 1 ton (1 m 3 ). Bak diletakkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung.
  2. Wadah diisi air tawar sampai 60 cm dan diudarai dengan batu 1-2 aerasi per 2,5 m
  3. Pemupukan menggunakan kotoran ayam kering yang dilarutkan dalam air samapi konsentrasinya 10% dan bungkil kelapa yang ditumbuk halus dan diayak dengan saringan 500 mikron.
  4. Pemupukan pertama menggunakan kotoran ayam 1000 ml/ton dan bubuk bungkil kelapa 200 gram/ton yang dicampur dan dimasukkan dalam kantong yang diperas di atas bak pemeliharaan, sehingga air perasan langsung jatuh ke bak.
  5. Pemupukan kedua dilakukan 4 hari kemudian, dan pemupukan ketiga dilakukan bila perlu.

b. pemasukan bibit

· Pemasukan biibt dilakukan 18-24 jam sesudah pemupukan awal dengan padat penebaran 30 ekor/l.

· Perkembangannya akan mencapai puncak dalam waktu 7-10 hari dengan kepadatan 3000-5000 ekor/l.

· Makanan moina terdiri dari tumbuhan renik dan detritus.

c. pemanenan

Pemanenan dilakukan dengan menghentikan aerasi, penyedotan dan penyaringan medium dengan saringan ukuran 200-250 mikron dan 800-1500 mikron untuk memisahkan dari jentik-jentik nyamuk.

Kultur ketiga plankton ini sangat berguna dan dapat dikembangkan sebagai pengefesien plankton untuk pakan alami ikan, dan plankton ini dapat juga menjadikan sebagai peluang usaha untuk menghasilkan nafkah.